Senin, 31 Januari 2011

Kilo Class Submarine

Dimensions
Length
6.3m
Beam
9.9m
Draught
6.3m
Displacement
2,350t
Range With Snorkel (7kt)
7,500 miles
Submerged Range (3kt)
400 miles
Sea Endurance
45 days
Full specifications

The Russian Kilo Class submarine first entered service in the early 1980s. It was designed by the Rubin Central Maritime Design Bureau, St Petersburg. Subsequent developments have led to the current production versions, the Type 877EKM and the Type 636. A successor, the Lada (Project 677) was launched in November 2004.
Rubin is developing an air-independent propulsion (AIP) system which could be available for retrofit to the other versions. The Kilo submarine was originally built at the Komsomolsk shipyard but is now constructed at the Admiralty Shipyard in St Petersburg. China has two Type 636 submarines, the second of which joined the Chinese fleet in January 1999.
In September 2007, it was announced that Indonesia had placed an order for two Kilo Type 636 submarines, plus options to purchase up to eight more.
In November 2007, Venezuela signed a memorandum of understanding for three Type 636 submarines to be delivered from 2012 to 2013.
"The Russian Kilo Class submarine first entered service in the early 1980s."
Type 636 is designed for anti-submarine warfare (ASW) and anti-surface-ship warfare (ASuW) and also for general reconnaissance and patrol missions. The Type 636 submarine is considered to be to be one of the quietest diesel submarines in the world. It is said to be capable of detecting an enemy submarine at a range three to four times greater than it can be detected itself.
Design
The submarine consists of six watertight compartments separated by transverse bulkheads in a pressurised double-hull. This design and the submarine's good reserve buoyancy lead to increased survivability if the submarine is holed, even with one compartment and two adjacent ballast tanks flooded.
The foreplanes are positioned on the upper hull in front of the fin or sail. The design is a development of the 877EKM Kilo class, with extended hull. The power of the diesel generators has been increased and the main propulsion shaft speed has been reduced to provide a substantial reduction in the acoustic signature of the submarine.
Maximum diving depth is 300m. Speed is 11kt when surfaced and 20kt when submerged. Range is 7,500 miles when snorkelling at 7kt and 400 miles when submerged at 3kt.
Command system
The submarine is equipped with a multi-purpose combat and command system which provides information for effective submarine control and torpedo firing.
The system's high-speed computer can process information from the surveillance equipment and display it on the screen; determine submerged and surface target data and calculate firing parameters; provide automatic fire control; and provide information and recommendations on manoeuvres and deployment of weapons.
Missiles
The submarine has a launcher for eight Strela-3 or Igla surface-to-air missiles. These missiles are manufactured by the Fakel Design Bureau, Kaliningrad. Strela-3 (NATO Designation SA-N-8 Gremlin) has a cooled infrared seeker and 2kg warhead. Maximum range is 6km.
"The Kilo Class submarine consists of six watertight compartments."
Igla (NATO designation SA-N-10 Gimlet) is also infrared-guided but heavier, with a maximum range of 5km and speed of Mach 1.65.
The vessels can be fitted with the Novator Club-S (SS-N-27) cruise missile system which fires the 3M-54E1 anti-ship missile. Range is 220km with 450kg high-explosive warhead.
Torpedoes
The submarine is equipped with six 533mm forward torpedo tubes situated in the nose of the submarine and carries 18 torpedoes with six in the torpedo tubes and 12 stored on the racks. Alternatively the torpedo tubes can deploy 24 mines.
Two torpedo tubes are designed for firing remote-controlled torpedoes with a very high accuracy. The computer-controlled torpedo system is provided with a quick-loading device. The first salvo is fired within two minutes and the second within five minutes.
Sensors
Type 636 is fitted with the MGK-400EM digital sonar. This provides: detection of submarine and surface ship targets in sonar listening mode; echo-ranging in a ±30° sector of the target relative bearing; telephone and telegraph communication in both long and short-range modes; detection of underwater sound signals and determination of the signal bearing.
The submarine's radar works in periscope and surface modes and provides information on the underwater and air situation, radar identification and navigational safety.
"Type 636 is designed for anti-submarine warfare (ASW) and anti-surface-ship warfare (ASuW)."
Countermeasures
Kilo Class countermeasures include electronic support measures (ESM), radar warning receiver and direction finder.
Propulsion
The submarine's propulsion system consists of two diesel generators, a main propulsion motor, a fuel-economic motor and a single shaft driving a seven-blade fixed-pitch propeller.
There are two additional stand-by motors for running in shallow waters, at mooring and in cases of emergency. Two 120-cell storage batteries are installed in the first and third compartments of the submarine. The main machinery is equipped with an automatic control system.

source: www.naval-technology.com

Rabu, 27 Oktober 2010

Pesawat milik Polri jatuh

Jakarta, (tvOne) 

Pesawat milik Mabes Polri hari Rabu (27/10) jatuh di sekitar kawasan Wami, Distrik Wanggar, Papua yang menewaskan tiga orang awaknya. "Pesawat milik Mabes Polri tersebut diperkirakan di kawasan Wami, Distrik Wanggar, Papua dan baru ditemukan tiga orang awaknya yang tewas," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Iskandar Hasan di Jakarta, Kamis (28/10).

Pesawar milik Polri jenis Skytruck tersebut dibawa lima orang awak yakni AKP Irwan sebagai pilot, Iptu Bayu sebagai co pilot, dan kru Ipda Mohamad Amri, Briptu Hadirianto, dan Briptu Aipul Bahri. "Saat ini baru tiga jenazah yang ditemukan, sisanya masih dalam pencarian dan kondisi tubuh korban ditemukan dalam keadaan hancur," kata Iskandar.

Kadiv Humas mengatakan, pesawat tersebut terbang dari Nabire setelah membawa bantuan ke Wasior,Provinsi Papua Barat dalam penerbangan akan kembali ke Jakarta via Ambon dan Makassar. "Setelah isi BBM di Nabire, pesawat Skytruck akan menuju Ambon, diperkirakan jatuh di daerah Wami, dimana sebelumnya pada pukul 15.55 WIT take off, selanjutnya pada pukul 16.30 kehilangan kontak dan belum tiba di Ambon," kata Iskandar.

Masyarakat pada pukul 23.30, menginformasikan ada pesawat jatuh dan selanjutnya Polres setempat menuju tempat kejadian dan menemukan tiga jenazah dalam kondisi terpisah-pisah dan pesawat hancur, kemudian dievakuasi ke rumah sakit Nabire. "Jatuhnya pesawat milik Mabes Polri tersebut diperkirakan karena cuaca buruk," kata Iskandar, menjelaskan.

Saat ini, Polres Nabire beserta masyarakat sekitar dikerahkan untuk mencari dua korban yang belum ditemukan. (Ant)

TNI AL menginginkan kapal selam Russia

Teknologi kapal selam Indonesia sudah ketinggalan dibandingkan negara tetangga Malaysia. Karena itu, TNI AL menginginkan kapal selam yang efek tangkisnya lebih dari kapal Scorpen yang dimiliki negeri jiran tersebut.

Keinginan tersebut disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Laksamana Tedjo Edhi Purdijatno saat berbincang dengan wartawan di kediamannya di Jakarta, Minggu (22/8).

"Kita harus punya kapal selam yang punya deterrent effect. Mereka tahu saja kita punya, sudah membuat mereka takut. Kalau kita beli yang tidak ada deterrent effect-nya, mending dibelikan beras saja," katanya.

Dephan telah menganggarkan US$700 juta untuk pembelian kapal selam. TNI AL berencana membeli dua kapal selam untuk menambah kekuatan kapal selam Indonesia yang sudah usang. KSAL beberapa waktu lalu menyebut ada dua opsi negara yang dipertimbangkan untuk menyediakan kapal selam bagi Indonesia, yakni Rusia dan Korea Selatan.

Menurutnya, kapal selam yang dimiliki oleh Malaysia bisa disaingi oleh kapal selam buatan Rusia kelas kilo dimodifikasi project 636. Sedangkan, kapasitas kapal selam buatan Korsel tidak berbeda jauh dengan yang dimiliki Indonesia sekarang, yakni tipe U214.

"Kapal selam buatan Rusia itu bisa menembak dari bawah laut ke darat," sahutnya.

Ia tidak menampik jika rencana pembelian itu bisa memancing perlombaan persenjataan. Menurutnya, jika memang ingin membangun kekuatan militer, tentunya bersaing dalam kualitas.

"Jika ingin membangun kekuatan tentara, ya mesti ada persaingan persenjataan," ucapnya. (sumber:mediaindonesia)

Jumat, 23 April 2010

Pindad Targetkan "Anoa" Terjual ke Malaysia Akhir 2010

PT(Persero) Pindad menargetkan penjualan pertama 32 unit panser 6X6 "Anoa" ke Malaysia dapat dilakukan akhir 2010.

"Ya kita berharap bisa November atau paling telat Desember 2010," kata Dirut PT Pindad Adik Avianto di sela-sela kunjungannya di Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 dan PT SME Ordnance di Kuala Lumpur Jumat.

Adik Avianto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan panser 6x6 , maka Malaysia telah melakukan penjajakan ke tiga perusahaan dari tiga negara yakni PT Pindad (Indonesia), Dosaan (Korea Selatan) dan Renault (Perancis).

Dari tiga perusahaan yang dilirik, Malaysia menetapkan dua calon perusahaan yang akan memenuhi kebutuhannya akan panser 6x6, yakni PT Pindad dan Renault.

"Jadi ini suatu kebanggaan juga kita bisa mengungguli Korsel. Kita tinggal melakukan yang terbaik untuk bisa unggul dari Renault," ungkap Adik.

Ia mengemukakan, Pindad dan Renault akan unjuk kebolehan dihadapan tim pengadaan Malaysia pada Mei 2010.

"Dari segi teknik dan kemampuan, produk kita tidak kalah dengan Renault. Bagaimanapun dia sudah ribuan unit yang diproduksi bahkan Indonesia pun sebagai salah salah pengguna panser sejenis buatan Renault," tutur Adik.

Namun, lanjut dia, dari segi , maka harga Pindad bisa memberikan harga yang lebih bersaing.

"Ya kami berharap, bisa lolos pada unjuk kebolehan nanti. Sehingga bisa segera dilakukan kontrak," katanya.

Panser 6X6 Pindad merupakan kendaraan tempur pengangkut personel dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri.

Panser ini dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu "gunner". Panser juga dilengkapi dengan "mounting" senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat.

Panser "Anoa" tersebut merupakan salah satu produk primadona PT Pindad yang dipamerkan dalam arena Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 dan PT SME Ordnance di Kuala Lumpur, Malaysia.

Selain panser, maka PT Pindad juga menampilkan berbagai varian persenjataan personel baik senapan laras panjang maupun pendek.

(Sumber: Angkasa Readers Club)

Sabtu, 17 April 2010

Pesawat tak dikenal memasuki kawasan udara NKRI?


JAKARTA - "Siaga 1, Waspada Merah, Siap Tempur 1", demikian perintah Pangkosekhanudnas I Marsekal Pertama TNI J.F.P Sitompul saat mengetahui adanya pelanggaran wilayah udara nasional oleh kekuatan udara asing melalui Pusat Operasi Sektor Makosekhanudnas I sebagai Pos Komando Pengendalian kepada unsur TS yang siaga di Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (14/4/2010).

Diketahui bahwa kekuatan udara negara asing telah melakukan unjuk kekuatan yang sangat mencolok dengan terus memperkuat kedudukannya di pangkalan dalam rangka mewujudkan kekuatan politiknya untuk menguasai Pulau Jawa dan seringkali melakukan penerbangan pengintaian yang melanggar jalur penerbangan wilayah udara nasional Indonesia.

Kosekhanudnas I beserta jajaran Satuan Radar di bawahnya menangkap kegiatan pesawat tidak dikenal yang melakukan pengintaian di wilayah NKRI khususnya di wilayah Kosekhanudnas I. Guna menindaklanjuti kondisi tersebut, Satuan Radar jajaran Kosekhanudnas I melaporkan langsung dan meningkatkan intensitas operasi untuk memotong garis perhubungan udara lawan dengan cara menghancurkan kekuatan udara asing tersebut yang memasuki wilayah udara Indonesia dengan melibatkan unsur TS sebagai interceptor.

Setelah mendapatkan perintah dari Pangkosekhanudnas I Marsekal Pertama TNI J.F.P Sitompul, unsur TS dengan pesawat F-5 E Tiger dalam kondisi siap tempur diterbangkan untuk mengejar dan melakukan tindakan Force Down terhadap kekuatan udara negara asing yang tertangkap radar telah melanggar wilayah udara nasional Indonesia.

Hal tersebut merupakan
Jumat, 09 April 2010

Hawk 200 TNI-AU akan diganti?


TEMPO Interaktif, Jakarta -Suasana di bekas hanggar haji Pelabuhan Udara Halim Perdana Kusuma pada Kamis (9/4) tampak berbeda dari hari biasanya. Sebelum matahari mengeluarkan cahayanya, sekitar dua puluh pesawat tempur telah terparkir rapi. Pesawat-pesawat itu tidak berasal dari pangkalan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara di Jakarta, namun dari berbagai daerah.

Di antaranya Hawk 100/200 dari Skadron Udara 1 Supadio dan Skadron Udara 12 Pekanbaru, pesawat F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Pangkalan Udara Iswahjudi dan F-5 Tiger dari Skadron Udara 14 Pangkalan Udara Iswahjudi, serta pesawat tempur Sukhoi 27 dan 30 dari Skadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hassanudin.

Sekitar pukul 06.00 WIB, pesawat-pesawat itu memasuki landasan pacu. Dan <I>wush</I>...satu per satu kapal terbang tempur
Kamis, 08 April 2010

Tank Mini dari India




Tren membuat sebuah kendaraan kecil ternyata sekarang tidak hanya menghinggapi segmen mobil saja, karena kini kendaran lapis baja semisal tank ukurannya pun juga akan segera mengecil.

Adalah sebuah perusahaan asal India, Metaltech Motor Bodies Pvt Ltd, yang
mempelopori hal tersebut dengan mengeluarkan sebuah kendaraan lapis baja bernama A-TAC yang berukuran sebesar kancil atau Bajaj.

Kendaraan lapis baja mungil yang anti peluru tersebut diperlihatkan dalam sebuah pameran senjata di New Delhi, India dan ditujukan untuk melawan
serangan-serangan teroris di tempat-tempat sempit seperti bandara, hotel atau stadion.

Karena dengan ukurannya yang mini, A-TAC bisa masuk ke lorong-lorong atau bahkan masuk ke lift untuk menyelamatkan sandera.

"Ini adalah produk yang lahir dari rasa tak berdaya kita di atas jatuhnya korban dalam beberapa serangan. Kami meletakkan kepala dan hati kita bersama-sama dan datang dengan A-TAC," ujar Direktur JB Sehrawat seperti detikOto kutip dari autoevolution, Jumat (19/2/2010).

Pernyataan tersebut tidaklah aneh. Sebab lahirnya A-TAC memang dilihami dari serangan teroris di Bombay pada 2008 lalu yang menyerang hotel-hotel di India selama tiga hari lamanya dan menewaskan 166 orang.

Kendaraan lapis baja mini ini sendiri digerakkan dengan menggunakan tenaga
baterai dan dapat membawa dua petugas bersenjata lengkap. Baterai ini mampu
membawa petugas berjalan 25 km/jam selama sekitar 6 jam.

Sementara untuk harganya, Metaltech Motor Bodies Pvt Ltd membanderol A-TAC
dengan harga 2 juta rupee atau sekitar Rp 402,22 jutaan. Dan hebatnya, meskipun berukuran sangat kecil, A-TAC mampu menahan tembakan atau bahkan ledakan granat.

"Ini adalah konsep besar sebagai satuan tempur yang kompak untuk kebutuhan
hari," India's Defence Research and Development Organisation, KJ Rao.


(Sumber: detik oto)