Kamis, 08 April 2010
Tank Mini dari India
Tren membuat sebuah kendaraan kecil ternyata sekarang tidak hanya menghinggapi segmen mobil saja, karena kini kendaran lapis baja semisal tank ukurannya pun juga akan segera mengecil.
Adalah sebuah perusahaan asal India, Metaltech Motor Bodies Pvt Ltd, yang
mempelopori hal tersebut dengan mengeluarkan sebuah kendaraan lapis baja bernama A-TAC yang berukuran sebesar kancil atau Bajaj.
Kendaraan lapis baja mungil yang anti peluru tersebut diperlihatkan dalam sebuah pameran senjata di New Delhi, India dan ditujukan untuk melawan
serangan-serangan teroris di tempat-tempat sempit seperti bandara, hotel atau stadion.
Karena dengan ukurannya yang mini, A-TAC bisa masuk ke lorong-lorong atau bahkan masuk ke lift untuk menyelamatkan sandera.
"Ini adalah produk yang lahir dari rasa tak berdaya kita di atas jatuhnya korban dalam beberapa serangan. Kami meletakkan kepala dan hati kita bersama-sama dan datang dengan A-TAC," ujar Direktur JB Sehrawat seperti detikOto kutip dari autoevolution, Jumat (19/2/2010).
Pernyataan tersebut tidaklah aneh. Sebab lahirnya A-TAC memang dilihami dari serangan teroris di Bombay pada 2008 lalu yang menyerang hotel-hotel di India selama tiga hari lamanya dan menewaskan 166 orang.
Kendaraan lapis baja mini ini sendiri digerakkan dengan menggunakan tenaga
baterai dan dapat membawa dua petugas bersenjata lengkap. Baterai ini mampu
membawa petugas berjalan 25 km/jam selama sekitar 6 jam.
Sementara untuk harganya, Metaltech Motor Bodies Pvt Ltd membanderol A-TAC
dengan harga 2 juta rupee atau sekitar Rp 402,22 jutaan. Dan hebatnya, meskipun berukuran sangat kecil, A-TAC mampu menahan tembakan atau bahkan ledakan granat.
"Ini adalah konsep besar sebagai satuan tempur yang kompak untuk kebutuhan
hari," India's Defence Research and Development Organisation, KJ Rao.
(Sumber: detik oto)
Rabu, 31 Maret 2010
General Dynamics F-16 Falcon
USA (1970-present)
Mulitrole Fighter
Rasanya kurang afdol jika membicarakan pesawat tempur tanpa menyebut pesawat yang satu ini. General Dynamics F-16 Falcon, begitu nama pesawat itu, AU negara mana yang tidak mengenalnya. Hampir semua negara Eropa, Asia Timur dan Asia Tengah memilikinya.
Alkisah pada awal dekade 70-an, USAF (AU AS) sedang tidak mempunyai dana banyak untuk membiayai pengadaan pesawat militernya. Padahal jajaran pesawat buru sergap F-104 Thunderchief sudah terbilang uzur, dan performa F-4 Phantom tidak begitu memukau pada kancah perang Vietnam. Apalagi tiba-tiba saja Sovyet mengeluarkan MiG-25 Foxbat, yang sudah pasti menjadi pecutan tersendiri bagi negeri paman sam itu.
Maka digelarlah tender untuk merancang sebuah pesawat ringan, kecil, mampu dioperasikan di berbagai kondisi, tetapi murah pengadaan dan perawatannya. Beberapa prototipe sempat dibuat, tetapi akhirnya dibatalkan karena prototipe itu hanya mementingkan faktor kecepatan. Lalu akhirnya muncullah celetukan seorang pilot bernama John Boyd. Boyd mengatakan bahwa jika sebuah pesawat yang ideal harus bisa memperhitungkan faktor daya dorong dan berat pesawat itu sendiri. Jika nisbah itu sudah ideal (sekarang dikenal dengan istilah thrust to weight ratio) maka pesawat itu dengan sendirinya akan mencapai manuveribilitas dan kecepatan yang ideal. Akhirnya General Dynamics muncul dengan prototipe YF-16 dan Northrop dengan YF-17. Dan tender itu sendiri
Selasa, 30 Maret 2010
PTDI Akan Membuat 50 Pesawat Tempur Untuk TNI AU
" KITA pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu (12/3).
Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 hektare.
Yang paling laris adalah pesawat CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332 Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu membanggakan bangsa saat itu.
Namun, persoalan muncul saat krisis ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu,
Kekuatan Militer Indonesia era 1960-an
Kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.
1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.
Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat "Trikora" di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan
Senin, 29 Maret 2010
Sukhoi dan Hawk Latihan Bersama Di Lanud Iswahjudi
Sukhoi dan Hawk Latihan Bersama Di Lanud Iswahjudi
(Pentak Lanud Iwj, 3/30/2010)
Pesawat-pesawat tempur jenis Hawk 109/209 dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat dan Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru, Riau mulai hari Sabtu (27/3) berdatangan di Lanud Iswahjudi, yang kedatangan diterima langsung oleh Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi, Kolonel Pnb Tatang harlyansyah, S.E., di Shelter Skadron Udara 15, Sabtu (27/3).
Sementara pesawat tempur Sukhoi SU-27/30 dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makasar, Sulawesi Selatan dibawah pimpinan langsung Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Kolonel Pnb Agus Supriyatna mendarat di Lanud Iswahjudi, yang diterima langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Kolonel Pnb Ismono Wijayanto di Shelter Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Senin (29/3).
Kedatangan pesawat-pesawat tempur dari luar Lanud Iswahjudi tersebut, dalam rangka melaksanakan pemusatan latihan terbang selama beberapa hari, untuk persiapan Fly Pass dan demo udara pada acara
Beretta M92
Italy (1975)
Handgun
Awalnya pistol ini dirancang untuk tentara Italia dan polisi, dikembangkan antara tahun 1970 dan 1975 sebagai pengganti pistol Beretta M951 yang sudah tua, dan memasuki masa produksi di Italia pada tahun 1976. Negara pertama yang mengadopsi adalah Brazil pada tahun 1977. Lalu Militer AS mengadopsi Model 92SB-F (belakangan diubah namanya menjadi model 92F) pada tahun 1985. Pada akhir 1980-an dan 1990-an, pistol ini juga diadopsi oleh Perancis.
Memang, magasin dan kapasitas Beretta 92 agak besar untuk ukuran sebuah compact handgun, sehingga kurang cocok untuk pengguna dengan tangan kecil. Tidak seperti Glock yang bertubuh kecil. Tetapi soal power, M92 jelas lebih mumpuni dibandingkan Glock. Sistem pengisian peluru menggunakan catridge (magasin) berisi 10 ,15,17,atau 20 peluru.
Selain kaliber 9mm, Beretta juga membuat varian untuk kaliber lain, seperti ,40 S & W (model 96) dan 9x21 IMI (Model 98, terdapat di beberapa negara Eropa termasuk Italia).
zaldy (berbagai sumber)
SVD Dragunov
USSR/Russia (1963-present)
Sniper Rifle
Senapan Runduk Dragunov (Snayperskaya Vintovka Dragunova, disingkat jadi SVD), adalah senapan semi-otomatis yang dirancang oleh Evgeniy Fedorovich Dragunov di Uni Soviet pada tahun 1958 sampai 1963. Senapan ini adalah senapan pertama yang dibuat khusus untuk penembak jitu, dan lazim ditemukan di negara-negara mantan Blok Timur.
Mengandalkan amunisi kaliber 7.62 mm dan jangkauan 1000 m, senapan ini sangatlah mematikan. Dengan berat hanya 4.3 Kg, senapan ini tidak akan menyulitkan pergerakan si penembak. Spesifikasi lain Dragunov, gas operated, velocity 830 m/s, panjang laras 610 mm, dan magasin isi 10 butir
Pada masa Uni Soviet, setiap regu diberikan satu SVD. Prajurit yang dipersenjatai SVD biasanya sudah mendapatkan pelatihan khusus untuk memakai senapan ini. Prajurit ini bergerak bersama-sama dengan regunya dan dimaksudkan untuk menambahkan jarak jangkauan mereka sampai 600 meter. Tanpa SVD, jarak efektif regu infanteri ini hanya sampai 300 meter, karena kecilnya jangkauan AK-47. Jadi dilihat dari perannya, secara teknis SVD bukan senapan penembak runduk, tetapi senapan penembak jitu.
Dirancang untuk memperjauh jarak jangkauan regu, senapan ini tetap kuat dan tahan banting. Ini terlihat dari adanya tempat untuk pemasangan bayonet, serta bidikan besi cadangan apabila alat bidik teleskopnya rusak. Kehandalan senapan ini masih diakui, dan senapan ini masih dipakai di Angkatan Bersenjata Rusia dan satuan penegak hukum Rusia.
Seperti halnya AK-47, Senjata ringan buatan Soviet secara umum terkenal sangat tahan lama, ini dibuktikan dengan banyaknya SVD yang secara luas dipakai dan memiliki "karir" yang panjang. Senapan ini dipakai pada banyak konflik diseluruh dunia, antara lain Perang Vietnam, Chechnya, Perang Teluk, sampai Perang Irak.
Zaldy
(sumber: wikipedia)
Langganan:
Postingan (Atom)
another good blog
Log Book
category
- altilery (1)
- article/story (1)
- combat helicopter (1)
- fighter jets (1)
- fighter jets/air superiority (1)
- fighter jets/interceptor (1)
- fighter jets/multirole fighter (3)
- firearms/handgun (1)
- firearms/riffle (2)
- Naval Ships (1)
- news (6)
Officer In Charge
- Zaldy
- Saya suka semua hal yang berbau militer. jika ingin menyumbangkan bahan, gambar, atau tulisan silahkan kirim ke rizaldy.baggus@yahoo.co.id
Reconnaissance
-
IDEOLOGI DEWASA INI DAN ‘KEGAIRAHAN’ PADA KIRI INDONESIA11 tahun yang lalu
-
website update11 tahun yang lalu
-
Two militants blown up by own explosives in Uruzgan province12 tahun yang lalu
-
21 desember 201015 tahun yang lalu
-
Live Review Ugal-Ugalan nan Pretentious: Highoctane Halloween15 tahun yang lalu
-
Jingle Bangle History16 tahun yang lalu
-
My Life Without Me16 tahun yang lalu
-
-
-
-
Gallery
Sverdlov Class Battleship







